Skip to main content

Jejak Perjalanan Iman: Sejarah Paroki Administratif Pelem Dukuh

  Paroki Administratif Pelem Dukuh adalah sebuah kisah tentang keteguhan iman, semangat pengabdian, dan perjuangan tak kenal lelah dari sekelompok umat Katolik yang bertekad membangun komunitas spiritual di tengah tantangan zaman. Cerita ini dimulai dengan seorang pria sederhana bernama Ignatius Tukidin, yang menjadi pelopor umat Katolik pertama di Pelem Dukuh. Pada tahun 1929, Bapak Ignatius Tukidin dipermandikan di Ploso Promasan setelah mengenal agama Katolik di Sekolah Rakyat (SR) Boro. Dengan bimbingan Romo Prennthaler, ia dikirim ke Mendut dan Ungaran untuk mengikuti kursus guru agama. Ketika ia kembali, benih iman yang ia bawa mulai bersemi di tanah Pelem Dukuh. Rumahnya menjadi tempat diselenggarakannya misa pertama, meski hanya tiga orang yang menerima komuni saat itu: Ignatius Tukidin sendiri, Bapak Sastroadmojo, dan Bapak Tjokrosiswoyo. Inilah awal mula dari perjalanan panjang umat Katolik di Pelem Dukuh. Tak lama kemudian, hadir pula Ibu Yakoba Sikem, yang menjadi umat ...

Renungan APP Tanggal 24 Februari 2021

 


RABU Prapaska 1

“… demikianlah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini”(Luk 11: 30)

Barangkali ada sebagian dari kita yang pernah berpikir bahwa banyaknya masalah dalam hidup menandakan kealpaan Tuhan dalam hidup kita. Banyaknya masalah kadang membuat kita menganggap bahwa Tuhan tidak ikut campur tangan dan membiarkan kita bergumul, bahkan ada pula yang sampai membuat kita merasa Tuhan tidak menyayangi kita karena membiarkan kita terus bergumul dengan masalah yang tidak kunjung terselesaikan. Seperti para ahli taurat dan orang Farisi, kita pun sering menuntut tanda bahkan mukjijat dari Tuhan.

Belajar dari kutipan sabda hari ini, kita diajak untuk lebih peka melihat pekerjaan Tuhan yang tidak selalu nampak melalui perkara- perkara besar. Ia selalu hadir, menyertai, dan bekerja dalam bahkan perkara-perkara kecil kehidupan kita. Yang kita butuhkan hanyalah kepekaan untuk melihat dan mengalami cara kerja Tuhan dalam hidup serta belajar untuk puas dan bersyukur atas cara kerja Tuhan meski tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Berhentilah untuk menuntut Tuhan berkarya sesuai dengan harapan kita, berhentilah untuk menjadi “ahli taurat dan farisi yang selalu menuntut tanda”. Sebaliknya, pada hari ini, marilah kita belajar mensyukuri kebaikan kebaikan Tuhan dalam setiap peristiwa yang kita alami, supaya dari sana kita dapat mengalami pertobatan sejati sebagai murid-muridNya

Sumber : kevikepandiy.org 

Comments