Skip to main content

Jejak Perjalanan Iman: Sejarah Paroki Administratif Pelem Dukuh

  Paroki Administratif Pelem Dukuh adalah sebuah kisah tentang keteguhan iman, semangat pengabdian, dan perjuangan tak kenal lelah dari sekelompok umat Katolik yang bertekad membangun komunitas spiritual di tengah tantangan zaman. Cerita ini dimulai dengan seorang pria sederhana bernama Ignatius Tukidin, yang menjadi pelopor umat Katolik pertama di Pelem Dukuh. Pada tahun 1929, Bapak Ignatius Tukidin dipermandikan di Ploso Promasan setelah mengenal agama Katolik di Sekolah Rakyat (SR) Boro. Dengan bimbingan Romo Prennthaler, ia dikirim ke Mendut dan Ungaran untuk mengikuti kursus guru agama. Ketika ia kembali, benih iman yang ia bawa mulai bersemi di tanah Pelem Dukuh. Rumahnya menjadi tempat diselenggarakannya misa pertama, meski hanya tiga orang yang menerima komuni saat itu: Ignatius Tukidin sendiri, Bapak Sastroadmojo, dan Bapak Tjokrosiswoyo. Inilah awal mula dari perjalanan panjang umat Katolik di Pelem Dukuh. Tak lama kemudian, hadir pula Ibu Yakoba Sikem, yang menjadi umat ...

Renungan APP tanggal 19 Februari 2021



Jumat Sesudah Rabu Abu

Hari pantang

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.” (Yes 58: 6)

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang menjadi sarana pertobatan, penyangkalan diri, dan usaha mempersatukan pengorbanan diri dengan pengorbanan Yesus di Salib sebagai silih atas dosa kita serta demi mendoakan keselamatan dunia. Puasa dan pantang murid Kristus tidak terlepas dari doa serta perbuatan amal kasih.

Puasa dan pantang menjadi sarana latihan rohani yang semakin mendekatkan diri kita pada sesama dan Tuhan. Puasa dan pantang bukan semata-mata “menyiksa diri”, namun menjadi usaha perendahan diri agar dapat semakin menghayati betapa besar kasih Allah kepada kita dan meneruskan meneruskan berkatNya kepada sesama. Melatih diri dalam puasa dan pantang tidak cukup berhenti untuk tidak makan dan minum atau meninggalkan kebiasaan buruk tertentu, namun pada akhirnya juga menjadi perutusan bagi setiap murid Kristus untuk meneruskan berkat bagi semakin banyak orang.

Marilah kita senantiasa belajar rendah hati dan tidak memegahkan diri. Berpuasalah untuk tidak angkuh dan loba melainkan sisihkanlah sedikit rezekimu untuk sesama. Jadikanlah hidupmu sebagai berkat bagi sesama, terutama mereka yang sangat membutuhkannya.

Sumber : kevikepandiy.org 

Comments